Feeds:
Pos
Komentar

Roadmap

Saat ini kata roadmap sering kita baca atau dengar dalam berita atau percakapan sehari-hari. Ya, kata roadmap, juga blueprint dan grand design, sudah menjadi trend saat orang berbicara tentang perencanaan. Menurut arti kamus, roadmap atau peta jalan adalah rencana kerja rinci yang menggambarkan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan.

Roadmap umumnya disusun sebagai bagian dari rencana strategis. Substansi penulisannya dapat terdiri dari:

  • Keadaan saat ini (sebagai baseline)
  • Tujuan yang ingin dicapai
  • Uraian tahap pelaksanaan untuk mencapai tujuan
  • Sasaran dari setiap tahap
  • Indikator pencapaian sasaran

Roadmap dapat diterapkan untuk berbagai domain persoalan, seperti ekonomi, kesehatan, transportasi, reformasi birokrasi, teknologi informasi, dan lain sebagainya. Juga untuk kehidupan kita di dunia ini. Apa tujuan hidup kita 5, 10, 25 tahun mendatang? Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut? Apa dan berapa banyak yang harus kita capai setiap tahunnya? Silahkan direnungkan.

Semoga bermanfaat!

Risiko

Kata risiko sering saya dengar, dan beberapa waktu belakangan ini kata tersebut menjadi kata yang paling akrab dengan aktivitas saya sehari-hari.

Pertama, saat saya tiba-tiba masuk dalam situasi pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan. Kata risiko muncul, bertaut dengan kata lain: (risiko) pekerjaan, salah menilai (risiko), menerima (risiko) sebagai konsekuensi dari keputusan yang sudah diambil.

Kedua, saat saya diminta mengajar mata kuliah Risk Assessment and Security Management di Program Magister Informatika Unla. Kata risiko harus saya coba terangkan dalam konteks manajemen keamanan informasi: penilaian (risiko), identifikasi (risiko), analisis (risiko), manajemen (risiko), dan mitigasi (risiko).

Sebenarnya apa yang disebut dengan risiko? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, risiko adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Risiko dapat diartikan juga sebagai kemungkinan terjadinya peristiwa yang membawa akibat yang tidak diinginkan atas tujuan yang ingin diraih.

Sementara dalam konteks keamanan informasi,

  • Risk is the net negative impact of the exercise of a vulnerability, considering both the probability and the impact of occurrence. [NIST]
  • Risk is defined as a function of three variables: the probability that there is a threat, the probability that there are any vulnerabilities, and the potential impact. [Wikipedia]

Karena seringnya kata risiko ini datang menghampiri, saya coba memaknainya. Dari slide powerpoint yang pernah diberikan seorang teman,

To laugh is to risk appearing a fool!
To weep is to risk appearing sentimental!
To reach out for another is to risk involvement!
To express feelings is to risk rejection!
To place your dreams before the crowd is to risk ridicule!
To love is to risk not being loved in return!
To go forward in the face of overwhelming odds is to risk failure!
But risks must be taken, because the greatest hazard in life is to risk nothing!
The person who risks nothing does nothing, has nothing, is nothing!
He/she may avoid suffering and sorrow, but he/she cannot learn, feel, change, grow or love!
Chained by his certitudes, he is a slave!
Only a person who takes risks is free!
Risk it, you might discover a new person in yourself!

Walaupun Ernest Hemingway mengatakan,

Hesitation increases in relation to risk in equal proportion to age!

Atau pendapat Tom Gilb dalam bukunya Principles of Software Engineering Management yang menyatakan,

If you don’t actively attack the risks, the risks will actively attack you.

Ah, apapun pendapat orang tentang risiko, senang rasanya bisa kembali posting. Terima kasih untuk para pembaca yang sudah dan tetap berkunjung ke blog ini.

Have a day full of smile and good work!πŸ™‚

Kisah Yu Timah

KISAH YU TIMAH
Oleh: Ahmad Tohari, kolom resonansi Republika, Desember 2006

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah ialah salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta. Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya. Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus. Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

“Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

“O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”

“Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”

“Mau ambil berapa?” tanya saya.

“Enam ratus ribu, Pak.”

“Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?” Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

“Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

“Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

“Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

“Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.

“Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Kanjeng Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya? Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji. Amiin.

Selamat Iedul Adha 1429H. Mudah-mudahan kita dapat lebih memaknai hakikat “qurban”.

Dampak

Apa yang disebut dampak atau impact? Secara umum dampak dapat diartikan sebagai perubahan perilaku, keadaan, kondisi, status atau lingkungan yang diakibatkan oleh suatu kejadian atau kegiatan, baik yang direncanakan maupun tidak. Dampak terkait erat dengan keluaran (output) dan hasil (outcome).

Sebagai gambaran, kegiatan belajar akan memberikan kita pengetahuan dan keterampilan (output). Dengan pengetahuan dan keterampilan tersebut maka cara kita berpikir, bersikap, dan bekerja akan menjadi lebih terencana, terpola, dan terukur (outcome). Akibatnya produk pekerjaan yang kita hasilkan akan menjadi lebih baik dan berkualitas (impact).

Dampak sukar diukur karena pencapaiannya tidak seketika. Selain itu, ada kegiatan atau faktor lain yang dapat mempengaruhi pencapaian ini. Contohnya, kualitas produk pekerjaan tidak hanya dicapai dari hasil kegiatan belajar. Tetapi mungkin dipengaruhi juga oleh hasil pengadaan alat (tools) untuk membantu pekerjaan tersebut. Atau bisa juga oleh hasil pemilihan bahan bakunya.

Dampak ada yang positif, ada juga yang negatif. Biasanya kita akan menolak, protes, bahkan marah kalau ada kegiatan yang dapat memberikan dampak negatif bagi banyak orang.

Dibutuhkan kemampuan analisis yang kuat untuk dapat mengantisipasi kemungkinan munculnya dampak negatif. Dibutuhkan kearifan untuk memilah mana kegiatan yang memberikan dampak positif dan negatif. Tetapi dibutuhkan sikap bijaksana untuk mencari solusi bagaimana menghilangkan, minimal mengurangi, dampak negatif ini apabila kegiatan tersebut sudah terlanjur terlaksana.

I Don’t Like Week End!

Biasanya syndrome yang paling umum adalah “I don’t like Monday!”. Tetapi bagi saya, dan mungkin bagi orang Bandung lainnnya, adalah “I don’t like week end!”. Mengapa? Macet dan semrawut dimana-mana, terutama di pusat-pusat keramaian. Sudah terbayang tersiksanya badan yang sedikit besar ini di-oven dan di-presto dalam angkot, kalau kebetulan ada keperluan ke tempat-tempat yang melalui pusat keramaian tersebut.

Entah mengapa perencanaan tata ruang, tata kota, tata bangunan, tata ekonomi, dan tata-tata lainnya untuk kota Bandung ini sepertinya tidak komprehensif. Tidak memperhatikan dampak jangka panjang bagi penduduknya. Bahasa kerennya, tidak dibuat social cost benefit analysis-nya. Yang dikedepankan mungkin hanya business plan saja. CMIIW!

Tetapi seperti apapun wajah kota Bandung, saya tetap mencintai kota ini. Good or bad is my city!. Tempat segala macam proses kehidupan yang saya jalani semenjak lahir. Walaupun setiap akhir pekan saya selalu berharap, Bandung tidak macet dan semrawut. Bandung kembali teduh dan sejuk. Bandung dapat membuat penduduknya kembali menjadi ramah, someah dan religius.

Lamunan sontak buyar saat terdengar suara berdecak dari sebelah atas. Eh, ternyata ada si cecak lagi. Mungkin sedari tadi terus memperhatikan. Begitu saya tatap, cecak pun berkomentar, “Gw tau alasan sebenernya lu ga suka wiken! Bukan karena macet kan!?”.

Dan secepat kilat saya pun usir dia, “Hus, huss, pergi sana!”, sebelum dia bicara tambah ngaco.πŸ˜€

Have a nice weekend!

Saat memberi materi kuliah pra pasca beberapa waktu lalu, rada heran juga begitu mengetahui sebagian besar peserta ternyata masih belum memahami model data sebagai tools perancangan basis data. Banyak yang masih punya pemahaman bahwa perancangan basis data hanya berurusan dengan Entity-Relationship Diagram (ERD) dan normalisasi saja.

Menurut saya, pendapat diatas perlu dikoreksi walaupun tidak sepenuhnya salah. Mengapa? Karena dalam konteks perancangan basis data, ERD dan normalisasi adalah 2 hal yang berbeda. Mari kita urai satu persatu.

ERD adalah diagram untuk menggambarkan model data Entity-Relationship (ER). Model ini digunakan untuk mendeskripsikan basis data di level konseptual. Artinya, basis data yang akan dibangun kita coba ungkapkan dalam bentuk entitas-entitas data berikut hubungan keterkaitan diantaranya. Dengan demikian, kita dapat membayangkan data apa saja yang nanti akan disimpan dalam basis data.

Sementara normalisasi adalah proses dekomposisi skema atau tabel relasi, karena skema atau tabel tersebut masih mengandung anomali. Skema atau tabel relasi adalah notasi untuk menggambarkan model logis basis data. Model ini digunakan untuk mendeskripsikan basis data sehingga susunan dan keterkaitan antar datanya dapat kita lihat secara logis.

Jadi berdasarkan penjelasan diatas, kita bisa buat klasifikasi sebagai berikut:

  • Model data: model ER, model relasi
  • Diagram/notasi: ERD, skema/tabel relasi
  • Tahap perancangan: perancangan model konseptual, perancangan model logis, normalisasi

Nah, selanjutnya kita hanya tinggal menempatkan model data, diagram/notasi, maupun tahap perancangan berikutnya ke konteks yang tepat sesuai pendekatan perancangan yang dipilih.

Bagaimana menurut pembaca?

Belajar OOP

Setiap setelah UTS saya selalu melakukan review terhadap materi kuliah yang saya sampaikan. Salah satu tujuannya adalah untuk mengingatkan mahasiswa supaya memahami kembali materi yang sudah dan akan disampaikan. Dengan demikian diharapkan mahasiswa bisa melakukan evaluasi diri terhadap pencapaian kompetensinya.

Review yang saya lakukan biasanya mengenai substansi dari mata kuliah. Sebagai contoh, untuk mata kuliah Pemrograman Berorientasi Objek atau Object-oriented Programming (OOP):

Pemahaman tentang OOP
OOP adalah teknik untuk membuat program objek, yaitu program yang tersusun dari kelas dan objek yang saling berhubungan. Hubungan antar kelas/objek ini dapat dilihat baik saat program ditulis maupun saat program dieksekusi.

Karena OOP merupakan teknik pembuatan program, maka ada pendekatan yang digunakan. Ada aturan yang harus diikuti saat menyusun programnya, dan ada tools yang digunakan untuk menuliskan programnya.

Belajar OOP
Belajar OOP adalah belajar pemrograman, oleh karena itu ruang lingkup pembahasannya mencakup:

  1. Belajar ide atau pendekatan yang menjadi konsep dasar OOP.
  2. Belajar bagaimana menerapkan konsep dasar itu menjadi berbagai bentuk OOP.
  3. Belajar bahasa pemrograman yang akan digunakan untuk membuat berbagai bentuk OOP, seperti struktur program, sintaks penulisan, atau mekanisme eksekusi program.
  4. Belajar menggunakan tools bahasa pemrograman untuk menulis program, kompilasi, dan eksekusi.
  5. Belajar menemukan dan mengartikan kesalahan program, dan memperbaikinya.
  6. Belajar bagaimana mengimplementasi 1 s.d. 5 untuk membuat sebuah aplikasi yang utuh.

Peta Materi OOP
Mengacu pada ruang lingkup belajar OOP diatas, peta materi OOP bisa seperti ini:

peta-materi-oop

(Klik disini untuk melihat gambar yang lebih besar)

Supaya semua materi dapat tersampaikan, ada strategi pembelajaran dan prioritas materi yang harus dirancang. Mana yang harus disampaikan di kelas, di laboratorium, saat asistensi, atau yang harus dipelajari dan dikerjakan sendiri oleh mahasiswa.

Semoga bermanfaat!