Kata resiko sering saya dengar, dan beberapa waktu belakangan ini kata tersebut menjadi kata yang paling akrab dengan aktivitas saya sehari-hari.
Pertama, saat saya tiba-tiba masuk dalam situasi pekerjaan yang sangat tidak menyenangkan. Kata resiko muncul, bertaut dengan kata lain: (resiko) pekerjaan, salah menilai (resiko), menerima (resiko) sebagai konsekuensi dari keputusan yang sudah diambil.
Kedua, saat saya diminta mengajar mata kuliah Risk Assessment and Security Management di Program Magister Informatika Unla. Kata resiko harus saya coba terangkan dalam konteks manajemen keamanan informasi: penilaian (resiko), identifikasi (resiko), analisis (resiko), manajemen resiko, dan mitigasi (resiko).
Sebenarnya apa yang disebut dengan resiko? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, resiko adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Resiko dapat diartikan juga sebagai kemungkinan terjadinya peristiwa yang membawa akibat yang tidak diinginkan atas tujuan yang ingin diraih.
Sementara dalam konteks keamanan informasi,
- Risk is the net negative impact of the exercise of a vulnerability, considering both the probability and the impact of occurrence. [NIST]
- Risk is defined as a function of three variables: the probability that there is a threat, the probability that there are any vulnerabilities, and the potential impact. [Wikipedia]
Karena seringnya kata resiko ini datang menghampiri, saya coba memaknainya. Dari slide powerpoint yang pernah diberikan seorang teman,
To laugh is to risk appearing a fool!
To weep is to risk appearing sentimental!
To reach out for another is to risk involvement!
To express feelings is to risk rejection!
To place your dreams before the crowd is to risk ridicule!
To love is to risk not being loved in return!
To go forward in the face of overwhelming odds is to risk failure!
But risks must be taken, because the greatest hazard in life is to risk nothing!
The person who risks nothing does nothing, has nothing, is nothing!
He/she may avoid suffering and sorrow, but he/she cannot learn, feel, change, grow or love!
Chained by his certitudes, he is a slave!
Only a person who takes risks is free!
Risk it, you might discover a new person in yourself!
Walaupun Ernest Hemingway mengatakan,
Hesitation increases in relation to risk in equal proportion to age!
Atau pendapat Tom Gilb dalam bukunya Principles of Software Engineering Management yang menyatakan,
If you don’t actively attack the risks, the risks will actively attack you.
Ah, apapun pendapat orang tentang resiko, senang rasanya bisa kembali posting. Terima kasih untuk para pembaca yang sudah dan tetap berkunjung ke blog ini.
Have a day full of smile and good work!
Dari kontek para pebisnis, resiko katanya sebuah seni berfikir dari otak kanan (feeling kali ya?). Jadi para pebisnis harus akrab dengan resiko dan harus berani menanggungnya. Bagi saya itu menjadi ‘monster’ untuk terjun di bisnis (ga bakat kali). “Sieun rugel” dan ga pernal dapet ilmu ‘risk manajement’-nya. Mesti di ‘couching’ nih. Kalau yang disebut ‘failed management’ apaan tuh bos?
Rud, dari hasil tapa kmrn,
resiko sebenarnya bisa dinilai baik dengan otak kanan (pendekatan emosional, lateral) maupun otak kiri (pendekatan rasional, linier).
Yang pertama menggunakan pengalaman dari kejadian2 yang pernah dialami sebelumnya, yang kemudian diinferensi melalui suatu insting, feeling, atau kemampuan berpikir lateral lainnya, misalnya ngalamun…
Yang kedua menggunakan data kuantitatif dan kualitatif yang berhasil dikumpulkan, baik dari sumber internal maupun eksternal. Dari data tsb, selanjutnya dilakukan identifikasi resiko, analisis resiko dan evaluasi resiko sebelum diputuskan untuk menerima atau menolak resiko tsb. Selanjutnya tinggal bagaimana mengelola resiko yang diterima/ditolak ini.
Keputusan para pebisnis untuk menerima atau menolak resiko biasanya didasarkan pd perhitungan untung-rugi. “Untuk dpt ikan (untung) besar, umpannya (resiko) hrs besar juga!”, begitu katanya.
Untuk failed management, arti secara umumnya adalah manajemen yg gagal (cmiiw), krn salah memutuskan, salah merencanakan, salah urus, tdk melakukan monev, dll. yg menyebabkan kegagalan suatu kegiatan, program atau kebijakan.
Banyak contohnya, salah satunya di …
Kupasan yang cantik, P’ Toto. Bagus.
Salam,
http://AgungMSG.wordpress.com
http://www.indonesia-aman.info
He..he.. Kebanyakan karena tidak seimbang fikiran di otak kita ya, makanya tanda telunjuknya (di jidat) kadang miring ke kiri atau miring ke kanan. Jadinya pada “garelo”…
“fact defeats doubt”. Eh, Kamana wungkul yeuh. Iraha copy darat atuh???
materi yang sangat bagus, kemarin sempet bingung juga tentang risiko tsb.
Tapi…… Klo risiko dalam perangkat lunak bagaimana ya??
tulisannya perlu ditambah lagi, ya pa!
Masih bingung ngebedain antara Impact sama Risk…
pak….!!seluruh tulisannya sangat bagus!! tapi apakah ini tulisan terakhir dari pak toto??