Membaca postingan bu Ayi tentang dokter menyebabkan saya lebih memperhatikan bagaimana dokter itu bekerja saat harus kontrol hari Kamis kemarin.
Setelah mengucapkan salam dan mempersilahkan duduk (tapi kadang langsung diminta berbaring di dipan periksa), dokter mulai memberikan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan data masukan. Dokter yang bagus punya berbagai user interface yang user friendly untuk mendapatkan data masukan dari sumber data mengingat latar belakangnya yang beragam.
Data masukan yang didapat bersama-sama hasil pemeriksaan laboratorium sebagai data masukan yang lain, selanjutnya digunakan oleh dokter untuk melakukan prognosis dengan mengacu pada knowledge base yang dipunyainya. Berdasarkan hasil prognosis inilah dokter kemudian melakukan diagnosis atau pemeriksaan. Pada umumnya yang selalu diperiksa oleh dokter adalah tekanan darah, jantung, dan bagian tubuh lain yang dikeluhkan pasien sambil dikonfirmasi apakah bagian tersebut sakit atau tidak jika diberi event tertentu.
Proses diagnosis kadang sebentar tetapi kadang juga cukup lama. Karena saat itu dilakukan juga proses akuisisi pengetahuan untuk menyimpulkan penyakit atau kemajuan kesembuhan si pasien. Oleh karena itu penting bagi pasien untuk memberikan data masukan yang lengkap dan akurat. Kecuali algoritma akuisisi pengetahuan yang digunakan dokter mampu memprediksi secara tepat data masukan yang belum diberikan. Garbage in, garbage out. Golden in, golden out.
Dari kesimpulan yang didapat, dokter melakukan proses pengambilan keputusan untuk menentukan tindakan dan obat yang harus diberikan pada pasien. Parameter yang digunakan umumnya adalah kondisi terakhir pasien, reaksi pasien pada obat tertentu, dan data rekam medis pasien yang tercatat pada basis data. Titipan sponsor atau preferensi dokter kadang-kadang dijadikan juga sebagai parameter pengambilan keputusan, selain permintaan dari pasien itu sendiri.
Seorang dokter pernah mengatakan bahwa kesembuhan pasien salah satunya ditentukan oleh ketepatan tindakan dan obat yang diberikan dokter (not out drug of choice). Tetapi kalau boleh memilih, sebagus-bagusnya kerja dokter, saya berharap tidak sering-sering datang merepotkan dokter untuk mengeksekusi sistem pakarnya.
Anyway, terima kasih untuk para dokter yang sudah banyak membantu menyembuhkan pasien-pasiennya.
hihihi si bapa..
kalo di sistem pakar, ada yang disebut certainty factor, faktor kepastian, jadi seberapa yakin terhadap hasil diagnosa tersebut.
asa ruwet deh