Ojek adalah sarana transportasi lain yang saya gunakan untuk mencapai kampus IT Telkom dari simpang jalan Mengger – Moh. Toha. Atau dari daerah Pasar Kordon di jalan Terusan Buah Batu.
Untuk mencapai kampus IT Telkom secara cepat dari simpang jalan Mengger, rute yang harus ditempuh adalah jalan Mengger yang menjadi lokasi beberapa pabrik dan garment, kemudian masuk ke jalan pemukiman yang ada di belakang sebuah pabrik tekstil. Selanjutnya menyusuri jalan sempit yang membelah sawah/ladang di kiri dan selokan di kanan, sebelum tiba di jalan Radio yang menjadi akses kedua menuju kampus IT Telkom.
Kadang ada rasa was-was saat ojek melintas di jalan sempit yang diapit sawah/ladang dan selokan itu. Apalagi kalau ojeknya ngebut, atau konsentrasi tukang ojeknya terganggu karena ada “interupsi tingkat tinggi” yang lewat. Sudah banyak motor dan sepeda yang jatuh terperosok ke selokan dan sawah/ladang karena tersenggol motor lain. Atau karena mengambil jalan terlalu ke pinggir.
Selama menggunakan jasa ojek ini, saya melihat beberapa hal positif yang ditunjukkan para tukang ojek. Mereka bekerja dengan rukun tanpa harus ada yang lebih senior dan jagoan. Menerapkan sistem antrian tanpa prioritas saat harus mengantarkan penumpang. Berbagi rejeki dari penumpang yang diantarkan tanpa harus serakah guna menafkahi keluarganya secara halal.
Satu kalimat bijak yang pernah saya terima dari tukang ojek yang sudah cukup umur mengapa mereka melakukan itu semua adalah, “milik teu pahili-hili, bagja teu paala-ala”. Milik dan kebahagian masing-masing orang semuanya sudah ada yang mengatur. Keduanya pasti akan didapat selama kita mau berusaha.
Mudah-mudahan kerukunan dan keyakinan para tukang ojek akan milik dan kebahagiaan tetap terjaga. Begitu juga dengan kita, walaupun usaha ke depan akan bertambah berat seiring dengan akan naiknya harga BBM.
Have a nice weekend!