Apabila angkot yang saya naiki kebetulan berhenti di perempatan jalan yang cukup ramai, dalam waktu singkat para pengamen yang mencari nafkah di tempat tersebut segera datang mendekat. Setelah mengucapkan salam sekedarnya, mereka mulai tarik suara mendendangkan lagunya. Ada yang lagunya enak untuk didengar, tapi kebanyakan tidak.
Kalau saya amati, mereka yang bisa menyanyikan lagu-lagu dengan cukup baik itu adalah yang usianya sepantaran anak kuliahan. Mereka biasanya menyanyikan lagu-lagu yang sedang hit. Beberapa lagu yang saya ingat adalah: Bersama Bintang (Drive), Sebelum Cahaya (Letto), Selingkuh (Matta), Menjaga Hati (Yovie & The Nuno), Menghapus Jejakmu (Peterpan), Klik (Ussy), dan Biarlah (Nidji).
Banyak diantara lagu-lagu tersebut yang punya lirik bagus, yang (mungkin) mengekspresikan perasaan para penciptanya saat menggubahnya. Tapi, menurut saya, lirik-liriknya masih kalah bagus dari lagu-lagu ciptaan (alm.) Chrisye, KLA, Fariz R.M., atau Chandra Darusman.
Jika harus memilih salah satu dari sekian banyak lagu tersebut, saya akan pilih Menghapus Jejakmu dari Peterpan. Mengapa? Karena ada Dian Sastro yang jadi bintang di video klip nya!
Teruskan langkah melupakanmu
lelah hati perhatikan sikapmu
…
Have a nice weekend!
Mudah-mudahan we atuh neng Dian Sastro teh, kesasar baca blog ini yah…
Pak.. Pak.. comment ajah di blog Dian Sastro.. kan ada tuh
biar dia tahu hu hu hu..
*semangat*
Ternyata pa Toto pengamat sosial juga yah. Saya setudju sekali pa lirik2 jaman sekarang banyak yang ga struktural sesuai dengan gaya bahasa yang baik dan benar. Harusnya para pencipta lagu konsultasi dulu dengan ahli bahasa, supaya tidak menciptakan produk peradaban yang memiliki dampak “pemelencengan” sastra Indonesia.
Beruntunglah yang tumbuh besar dengan lagu-lagu yang cerdas.
hahahaha..
keukeuh Dian Sastro
didukung pa didukung, saya cariin tipe-tipe Dian Sastro ya! yang matanya sayu kan..
*celingak-celinguk*
oOo .. ternyata begitu??
Baiklah, Guru!!
silent aja ah …..